Pengusaha nasional sekaligus pendiri PT Ebod Jaya Bandung, H. Ebod Jaya, menegaskan kunci utama keberhasilan wirausaha, khususnya bagi generasi muda, bukan semata soal modal uang. Menurutnya, mindset dan mental yang benar justru menjadi fondasi terpenting dalam membangun usaha yang berkelanjutan.
Pesan itu disampaikan H. Ebod Jaya dalam sesi diskusi santai bersama kalangan akademisi dan dosen Universitas Ma’arif Nahdlatul Ulama (UMNU) Kebumen, Kamis (22/1/2026). Dalam forum tersebut, ia menyoroti pentingnya ilmu pengetahuan yang benar-benar memberi dampak nyata bagi kehidupan.
“Ilmu itu harus bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari. Kalau ilmu tidak diaplikasikan atau tidak memberi manfaat, itu namanya ilmu halu,” tegasnya.
Menurut Ebod Jaya, banyak generasi muda Indonesia sebenarnya memiliki potensi besar. Namun, potensi tersebut sering tidak berkembang karena kalah sebelum bertanding, terutama akibat rasa minder.
“Orang Indonesia itu sering minder duluan. Lihat orang yang sudah maju, langsung merasa kalah. Padahal sebenarnya kita mampu,” ujarnya.
Ia menekankan keyakinan terhadap kemampuan diri sendiri harus ditanamkan sejak awal. Jika orang lain bisa berhasil, maka setiap individu pun memiliki peluang yang sama untuk sukses.
Selain mindset, Ebod Jaya juga menyoroti persoalan mentalitas kerja. Ia menyebut masih banyak orang yang memiliki mental kuli, yakni hanya bergerak ketika diperintah.
“Seorang entrepreneur itu harus punya inisiatif. Bukan orang yang diarahkan, tapi orang yang mengarahkan,” katanya.
Menurutnya, kemajuan peradaban manusia lahir dari orang-orang yang berani berinisiatif. Tanpa inisiatif, manusia tidak akan mengenal teknologi, kendaraan, maupun alat komunikasi modern seperti saat ini.
Menanggapi pertanyaan terkait riset dan inovasi di daerah, Ebod Jaya mendorong agar pengembangan riset bertumpu pada potensi dan kearifan lokal.
“Apa yang lokal, itulah yang dikembangkan. Riset itu proses yang ada sentuhan teknologi, supaya produk lebih murah, lebih cepat, dan lebih bagus,” jelasnya.
Pengusaha asal Kecamatan Prembun, Kebumen, yang hanya menempuh pendidikan formal hingga tingkat SMP ini menegaskan teknologi harus memberikan nilai tambah. Jika sebuah inovasi tidak membuat produk lebih baik, lebih murah, atau lebih efisien, maka hal itu tidak layak disebut sebagai teknologi.
Sebagai bentuk dukungan nyata, Ebod Jaya mengaku siap memfasilitasi riset yang bersifat logis dan aplikatif.
“Saya fasilitasi riset mulai dari Rp1 juta. Kalau berhasil dan bermanfaat bagi lingkungan sekitar, saya tambah bonus Rp5 juta,” ungkapnya.
Ia juga menegaskan tidak ada batasan waktu dalam pelaksanaan riset tersebut, selama pendanaan masih tersedia.
Terkait potensi lokal seperti sapi Peranakan Ongole (PO), Ebod Jaya menilai persoalan utama terletak pada sistem pengelolaan yang masih tradisional.
“Selama masih manual, seperti ngarit untuk satu ekor sapi, ongkos produksinya pasti mahal,” ujarnya.
Ia membandingkan dengan sistem peternakan di Australia yang sudah berbasis teknologi dan efisiensi, sehingga harga daging dapat ditekan. Menurutnya, tanpa perubahan sistem, Indonesia akan terus bergantung pada impor.
Menutup diskusi, Ebod Jaya menyinggung persoalan kemiskinan di Kabupaten Kebumen. Ia menilai tidak semua orang harus kreatif atau inovatif.
“Cukup 2 persen orang yang pintar dan kreatif, tapi mereka harus diberi ruang untuk menentukan kebijakan,” tegasnya.
Menurutnya, persoalan kerap muncul ketika posisi strategis diisi oleh pihak yang tidak memahami kebutuhan masyarakat, sehingga kebijakan yang diambil tidak tepat sasaran.
Sumber: Kebumen24

