Universitas Ma’arif Nahdlatul Ulama (UMNU) Kebumen menunjukkan komitmennya terhadap lingkungan melalui program hibah Kementerian Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi. Kali ini, UMNU menyerahkan alat pengolah sampah plastik menjadi bahan bakar minyak (BBM) berbasis metode pirolisis kepada masyarakat Desa Jatiluhur, Kecamatan Karanganyar.
Acara penyerahan berlangsung di Aula Desa Jatiluhur pada Selasa (23/9/2025). Hadir Rektor UMNU Kebumen Dr. Imam Satibi, M.Pd.I, Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Kehutanan dan Perikanan (DLHKP) Asep Nurdiana, Camat Karanganyar Puji Lestari, perwakilan Bappeda, Dispermades, serta pengurus bank sampah dan kelompok masyarakat peduli lingkungan.
Kepala Desa Jatiluhur, Tarman, menyambut program ini dengan antusias. Dengan adanya alat pirolisis ini, Desa Jatiluhur diharapkan menjadi percontohan desa ramah lingkungan yang mampu mengubah sampah plastik menjadi energi alternatif.
“Kami mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya. Semoga program ini bermanfaat bagi warga dan bisa diterapkan di desa lain di Kebumen,” ujarnya.

Ketua Pelaksana Pengabdian, Ahmad Aftah Syukron, M.Si., menjelaskan, metode pirolisis telah dikembangkan sejak 2014 dan kini disempurnakan UMNU agar lebih efektif digunakan masyarakat. Plastik dibakar pada suhu 300–400°C hingga menghasilkan uap, kemudian dialirkan ke reaktor untuk didistilasi menjadi bensin dan solar. Dari 6 kilogram plastik, residu yang tersisa kurang dari setengah kilogram.
Mesin ini mampu mengolah sampah plastik dalam waktu tiga hingga empat jam, bahkan menghasilkan gas tambahan. Misalnya, 40 kilogram plastik bisa menghasilkan sekitar 4 kilogram gas yang dapat digunakan masyarakat, bukan untuk diperjualbelikan.
Amsiati, pengurus kelompok ibu-ibu peduli sampah Desa Jatiluhur, menyatakan kegembiraannya.
“Dengan alat ini, sampah bisa dimanfaatkan menjadi produk bernilai ekonomis, meningkatkan kesejahteraan sekaligus menjaga kebersihan lingkungan,” katanya.
Kepala DLHKP Kebumen, Asep Nurdiana, menegaskan pentingnya inovasi ini. Kabupaten Kebumen hanya memiliki dua Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan kapasitasnya terbatas. Inovasi pirolisis diharapkan membantu mengurangi beban sampah menjelang aturan 2030 yang melarang penambahan TPA baru.
Rektor UMNU Kebumen, Dr. Imam Satibi, menambahkan program ini adalah bentuk nyata pengabdian perguruan tinggi kepada masyarakat. Ke depan, program serupa akan dikembangkan di desa-desa lain di Kebumen
“Kampus tidak hanya mendidik di kelas, tetapi juga hadir memberikan solusi nyata bagi tantangan lingkungan dan ekonomi masyarakat,” paparnya.
Sumber: Kebumen24.com

